Photobucket - Video and Image Hosting







pitunemlimo


   


design & editted : dustyhawk
Wednesday, May 09, 2007
Telaga Cinta di Kota kendal

           Kalo Herudi Kandau punya "dermaga cinta di kota Jogja", kami anak-anak BPK punya telaganya. Telaga dimana cinta itu terapung berada di Kota Kendal. Diantara hamparan hijau persawahan, manisnya tebu, dan aliran udara hangat pedesaan.

Sabtu, 21 April 2007 ketika matahari masih bersinar dengan hangatnya, kami menjadi saksi peristiwa sakral untuk dua insan yang akan membuat ikrar untuk sehidup semati berdua. Sebuah momen yang mengharukan. Ini adalah kali pertama bagi saya menyaksikan peristiwa ini, semenjak saya mengenal cinta dan bagaimana seharusnya memaknainya.

Rintik hujan menyambut kedatangan rombongan kami ketika memasuki kota Kendal. Waktu menunjukkan pukul 05.30 ketika kami memutuskan untuk berhenti disebuah SPBU untuk sholat dan mandi. Setelah selesai kami meneruskan perjalanan kembali. Hujan telah reda, kami berharap semoga tidak terlambat. Dengan berbekal selembar peta dibalik undangan dan bimbingan salah seorang teman akhirnya kami sampai di lokasi, syukurlah acara belum dimulai.

Matahari sudah tidak lagi hangat, para tamu sudah mulai gelisah bahkan ada yang nyeletuk "maklum Indonesia". Rombongan keluarga mempelai laki-laki tiba, membawa hantaran dan mahar. Saya yang mempunyai usul agar teman-teman patungan untuk menghadiahkan satu set tafsir Ibnu Katsir hanya tertawa saat melihat ternyata yang dijadikan mahar juga tafsir tersebut (terimakasih buat Juki yang udah ngingetin untuk memprioritaskan yang lebih penting dulu). Setelah prosesi perkenlan dan ramah tamah kedua keluarga yang mebuat Irwan Sasmika tertidur dikarenakan ga paham apa yang dibicarakan (jangankan Irwan saya sendiri yang orang Jawa aja ga ngerti artinya kok) penghulu yang ditungu-tungu akhirnya tiba. Penghulunya berperawakan agak gemuk, pendek, berwajah bersih, dengan kumis tanpa jenggot, mengenakan sarung dan jas warna kelabu dengan aksesoris semacam selendang yang diselampirkan di pundaknya. Dia disambut dengan cium tangan para hadirin bahkan yang lebih tua darinya (subhanallah bahkan Rasulullah saw saat tiba di majelisnya, para sahabat tidak pernah berdiri dengan alasan menyambut kedatangan Beliau). Sang penghulu duduk dan langsung membuka bungkusan rokok "gudang garam"-nya yang tampaknya baru dibelinya, kontan tuan rumah sibuk mencarikan asbak untuknya (Ustadz..apakah belum sampai kepadamu peringatan bahayanya merokok, dan dalil-dalil yang bisa dipakai untuk mengharamkannya?Semoga engkau menemukan hidayahNya)

Nala sendiri memakai baju koko warna putih, setelan Jas warna kelabu, sebuah peci nasional hitam, untaian kalung bunga melati dan riasan yang sepertinya harus dipaksakan pada Nala untuk memakainya. Setelah khutbah Nikah yang singkat, proses akad nikah pun dilaksanakan. Ijab qabul dilakukan dengan menggunakan bahasa arab dan harus diulang karena ada sedikit kekurangan pengucapan dan alhamdulillah yang kedua kalinya telah disahkan. Saya tidak lupa mengabadikan momen ini dengan fasilitas kamera HP yang ala kadarnya. Setelah do'a Nala (mempelai pria) membacakan janji yang tertera di surat nikah dan menandatanganinya. Kemudian Nisak (mempelai wanita) yang sedari tadi mungkin hanya memanjatkan do'a ketika proses ini lancar dan entah apa yang ada didalam benaknya saat ijab qabul dilaksanakan keluar dan menyambut tangan suaminya. Dibawah kilatan lampu blits kamera mereka berdua memamerkan surat nikahnya. Tampak rona bahagia terpancar dari wajah keduanya, menerima anugerah dari yang Kuasa. Sebuah bingkisan hakikat cinta dari Sang Maha Pecinta terbingkai indah dalam ikatan pernikahan.

Acara dilanjtkan dengan sesi berfoto bersama kerabat, teman laki-laki dengan mempelai laki-laki, teman perempuan dengan mempelai wanita. Di sela-sela acara tersebut seorang kerabat "ujug-ujug" (tiba-tiba=jawa) datang datang dan bertanya "Rombongan anak STAN yang dari Jakarta ya?" kemudian membuka kertas bertuliskan "Rak Enak Kawin...?" (Bukankah Nikah Itu Enak?=jawa) kami yang paham kontan tertawa.."Ono-ono wae Lik...!!"

Setelah menyantap jamuan makan siang (dan sudah diprediksikan siapa-siapa saja yang bakal nambah) yang sebelumnya diselingi guyonan tuan rumah yang kasihan melihat si Asil sampe keriting nungguin makan....Kami berpamitan untuk kembali menuju Jakarta, teriring do'a agar pernikahan mereka barakah, rumah tangganya menjadi Sakinah, Mawaddah, Warrahmah. Kenangan Kota Kendal menyisakan tanya bagi diri saya pribadi, kapankah drama kehidupan ini akan saya lakoni? Wallahu 'alam.

 

(Pusdiklat BPK-RI kamar 212, senin 23 April 2007 19:35) 


Posted at 05:16 pm by pitunemlimo

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Don't buy Vista Security
Previous Entry Home Next Entry
<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31






Link


Salafi Start Page
Ikhwah STAN
STAN-BPK
Blog-nya Abu Salma
Muslim.or.id
Muslimah.or.id
Al Manhaj

Ikhwan

Iyok
Zabun
Sri Kasembadan
Maramis Setiawan

Akhwat

Eni Mataram
Mba Leila
Tigger of Palembang



Dengar Kajian (Thanks to Saudara Abu Yahya Albykazi)
Ajaran Islam Mana ...

Yang Sedang Berkunjung
online

Yang Sudah Berkunjung
hits




Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



RSS Atom
rss feed

BLOGDRIVE
TEMPLATES

Blogdrive's Infected Improved