Photobucket - Video and Image Hosting







pitunemlimo


   


design & editted : dustyhawk
Monday, August 13, 2007
Tak akan berhenti sampai disini



Hari-hari semakin terasa cepat berlalu melelahkan
Ketika perjuangan ini telah divonis mati!!!
Realita memang selalu pandai berkata-kata
Tidaklah cukup argumentasi untuk membuktikan bahwa dia salah

Dan aku akan selalu merindukanmu
Saat kita duduk bersama menikmati waktu yang seakan tak ada habisnya
Perenungan panjang pencarian sebuah makna
Hakikat dari apa yang kita perjuangkan berlandaskan doktrin yang bertahun-tahun kita telan mentah-mentah

Kita tertampar dengan telak oleh tangan-tangan besi yang telah berafiliasi dengan makhluk yang bernama birokrasi
Tak jarang kita tersungkur berkalang tanah, setiap kali kita dibelai dalam buaian induk kita sendiri
Ketika kita tersadar kita tidak sedang bermimpi, hari sudah terlalu larut
Menyesalkah karena kita terbangun terlalu dini?
Saya kira tidak, rona merah cakrawala timur terlalu indah untuk dilewatkan

lonceng kematian telah berdentang...
Aku berbisik lirih, kita telah kalah...
Kembali kulihat seutas senyum tersimpul diujung gurat-gurat luka
Bahagia, teringat betapa manisnya perjuangan ini...
"Medan juang masih jauh, masih banyak tugas yang belum kita kerjakan", katamu
kita pernah kalah namun kita tetap tak terkalahkan

Tlah dikurung dalam keranda rasa iba dan solidaritas
Diusung oleh saudara-saudara kita sendiri
Berjalan tertunduk seakan-akan kita tidak terlahir dari rahim yang sama
Tak pernah kubayangkan begitu cepat mereka menaati titah sang raja
Seperti katamu, walau jasad ini mati, cahaya yang sudah terlanjur kita sulut akan tetap mengobarkan semangatnya

Bertahanlah kawan
Kita tidak sendiri
Bukankah kita tlah lupa bagaimana cara menitihkan air mata
Akan tiba saatnya kita menemukan sekotak pelangi
Sehingga tak perlu lagi kita memupus asa


(untuk rekan-rekan seperjuangan stan bpk 2006 terimakasih semuanya....mari kita bangun negeri ini...walau kita jauh tapi kalian akan tetap dekat dihati) 

Posted at 01:09 am by pitunemlimo
Comment (1)  

Dan Merekapun Tertawa

Sekitar pukul setengah Sembilan malam, hari minggu. Seperti biasa selepas kajian rutin yang aku ikuti aku mampir untuk membeli makan. Kali ini aku memilih untuk membeli nasi goreng di warung langgananku, sambil menunggu pesananku aku membaca-baca majalah nikah yang baru aku beli. Lewat segerombolan anak yang aku kenali mereka sebagai teman satu angkatanku di organisasi kepecintaalaman kampus. Aku pun menyapa mereka, mereka pun menoleh untuk mencari tahu siapa yang memanggil dan saat  menyadari bahwa yang menyapa mereka adalah aku sontak mereka kaget seolah tidak percaya bahwa seorang yang berpenampilan seperti ustad jefry (sebenernya si   lebih layak disebut artis kali yee) adalah “kaspo” anak berandalan yang jarang mandi itu. Mereka menghampiriku dengan tertawa dan mulai sedikit menyindir penampilanku yang memang agak aneh (aneh disini adalah ya seperti umumnya anak-anak pengajian lah… coz penampilan normalku setahu mereka adalah yang urakan dan terkesan tak terurus he..he..). “mimpi apa loe semalem…dapet hidayah darimana loe..”dan pertanyaan sejenis yang mulai terlontar dari mereka.. (”….dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”)

Yah memang kenyataan seperti inilah yang harus aku hadapi ketika aku memilih untuk menjalani hidup dengan bekal yang menurutku tepat untuk saat ini yang mengharuskan aku untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamaku dulu. Konsekuensi yang harus saya terima dengan apa yang aku dapatkan sekarang ini mudah-mudahan aku semakin bangga dengan apa yang telah menjadi keputusanku.

Dalam hati ini masih ingin mengatakan bahwa aku masih teman kalian untuk menapaki jalan setapak menggapai puncak-puncak gunung

Aku masih teman kalian untuk menjamahi tebing-tebing terjal, menyusuri dalam dan gelapnya goa untuk mendapatkan keindahan stalaktit dan stalakmit, atau mengarungi ganasnya arus dan liarnya jeram-jeram

Aku masih teman kalian dalam mngekspresikan jatidiri dengan cara kita masing-masing. Tapi aku bukan lagi teman kalian untuk menikmati batang demi batang rokok, tidak lagi teman untuk nongkrong menghaiskan waktu tak berguna dengan menyanyi atau bahkan sampai meminum khamr. Sekali-kali tidak aku bukan lagi teman untuk melanggar ketentuan syariat. Tidak ada teman untuk melawan Allah dan Rasulnya…

Biarkan aku teman…biarkan aku duduk di majelis itu, biarkan aku meninggikan pakaianku, biarkan aku memelihara jenggotku (walau Cuma beberapa lembar si..), biarkan aku memenuhi sunnah RasulNya

 Seandainya kalian mengalami apa yang aku rasakan sekarang ini teman. Aku ingin sekali mengajak kalian bersamaku duduk di majelis ilmu yang dinaungi malaikat. Bukan untuk merubah kalian menjadi seperti aku, tapi hanya sekedar memahami mengapa aku telah memilih. Tapi apa daya hidayah hanya milik Allah semata, aku hanya bisa berdo’a. terimalah aku walau penampilanku kini sudah tidak sama lagi dengan kalian.

“…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…..”(2:216)


Posted at 01:04 am by pitunemlimo
Make a comment  

Kajian di Bintaro-ku

Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam yang telah memberikan petunjuk hidayah kepada seorang hambaNya, Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW hamba Allah dan manusia paling sempurna akhlaknya yang memiliki sunnah untuk kita ikuti.

 

Selama beberapa tahun hidup di daerah ini tidak pernah aku merasakan hidup senyaman dan setentram ini, sehingga timbul kekhawatiran ketika aku harus meninggalkannya kelak. Aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang ini hidup di lingkungan yang hampir-hampir dulu tidak pernah aku kenal.

 

Suasana seperti inilah yang aku cari, Alhamdulillah Ya Rabb. Terima kasih juga aku ucapkan pada al akh muhammad arifin dan ikhwan-ikhwan yang tergabung dalam Forum Ilmiah Studi Islam. Karena perantara mereka-lah aku mengenal Manhaj ini. Aku merasa sangat beruntung ketika pencarianku langsung berlabuh disini. Tidak seperti rekan-rekan yang lain yang harus bertualang ke berbagai kelompok terlebih dahulu.

 

Duduk dalam majelis ilmu mendengarkan ceramah dari ustadz yang menyampaikan apa-apa yang berasal dari Allah dan RasulNya. Inilah ilmu yang sebenarnya, tidak mereka sampaikan kecuali yang sahih.

 

Dan di Bintaro ini ada beberapa kajian yang bisa diikuti. Hari senin Ba’da Maghrib Kajian kitab Al Qoulul Mufid (syarah kitab tauhid) Syaikh Muhammad bin Soleh Al Utsaimin yag disampaikan oleh Ustadz Muhtarom, Hari Sabtu Mulai dari jam 5 (kecuali minggu ke-3) Kajian kitab Umdatul Ahkam dan ba’da maghrib tafsir ibnu katsir disampaikan oleh Ustadz Syeikh Mudrika Ilyas, keduanya mengambil tempat di Masjid An Nashr bintaro sektor 5.Hari ahad ba’da maghrib Kajian kitab Bahjatun Nashirin (syarah riyadhus shalihin) Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly disampaikan oleh Ustadz Muhtarom bertempat di Masjid Raya Bintaro sektor 9. kemudian kajian tematik yang tidak rutin yang bertempat di Masjid As Salam jalan mandar bintaro sektor 3ª. Memang dibandingkan dengan teman-teman yang lain, kajian ini terhitung sedikit dibandingkan para thollabul ilmy yang memburu kemanapun terdapat kajian bermanhaj salaf.

 

Tetapi apa mau dikata, ketika aku telah merasa nyaman dengan semuanya ini Allah telah memberikan skenario lain dalam hidupku. Ya aku harus segera pindah dari lingkungan yang telah membuatku nyaman. Demi memenuhi tugas kedinasan aku harus pindah ke mamuju sulawesi barat. Dan kekhawatiran utamaku adalah kemungkinan aku tidak menemukan suasana menuntut ilmu seperti saat ini lagi. Aku harus mulai dari awal lagi untuk mencari dimana terdapat majelis ilmu yang sama. Aku takut ketika nanti aku tidak menemukannya semangat ini lambat laun akan menurun dan hilang sama sekali. Tapi aku yakin Allah akan memberikan jalan kalo memang aku masih berniat untuk mencarinya. Sekarang aku harus mempersiapkan segalanya kalau-kalau sandainya disana tidak kutemukan, aku mulai membeli beberapa (bahkan terhitung banyak bagiku) buku-buku dan mp3 kajian untuk menemaniku disana nanti, karena terus trang aku benar-benar tidak mengetahui bagaimana keadaan disana.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Ali Imran: 8)

 

Selamat tinggal Bintaro-ku, terimakasih semuanya……..


Posted at 01:02 am by pitunemlimo
Make a comment  

Aku Datang Maisya....!!!

Sebuah kisah nyata yang dimuat di majalah Nikah dan juga dimuat dalam Buku Semudah Cinta Di awal Senja....Truly Inspiring me....Big Smile
Diambil dari Forum Pecinta Sunnah


Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.

Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani ”prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.

Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakn pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.

”Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.

Tapi kujawab enteng, ”Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.

”Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.

Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.

Lewat kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing).

”Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.

”Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.

Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan).

Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan ”Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.

Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya.

Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.

Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal.

”Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-bku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”

”Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi, liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak MR dong. Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo.

Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.

”Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selam ini, Assalamu’alaikum,”

”Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.

Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. ”Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib dekatku yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk

”Ditolak ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”

Aku jawab saja dengan ketus, ”Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.

”Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.

Ternyata bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.

Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. ”Apa yang harus kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok nyerah.

Tanpa sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi.

Dengan penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?

Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat tersebut kukatakan, ”Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”

Kupikir Maisya akan ”tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan ”rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.

Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut.

Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan ”sesi tanya-jawab” , dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,

”Baiklah, kaka sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya? Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.

Hatiku berbunga-bunga mendengarnya,. Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia.

”Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”

Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku haru s bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu. ”Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.

Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya? Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh.

Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.

Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama.

Di bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.

Ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin (baca kisah Aku Datang Maisya! part 1-ed.). kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku.

Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh..., senangnya.

Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak.

Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.

Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku.

Setelah acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.

Ternyata ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain. Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga. Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan.

Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.

Bahkan setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku.

Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.

*****


Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.”

Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.

Suatu hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah belagu,” cerocosnya.

“Mohon tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.

“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.

“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.

“Tidak!” jawabnya ketus.

“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.

“Aaah udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.

Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.

Kejadian itu membuat hatuku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.

Yang jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu, maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.

Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga.

******

Undangan mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.

Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya, “Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini. Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.

Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.

Keluarga Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak mentah-mentah.

Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.

Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya.

Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.

Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.

Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku.

Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya.

Suami Maisya

(Dimana Aku Mencari Maisya-ku......?)

Posted at 12:52 am by pitunemlimo
Make a comment  

Mandalawangi, 3 Desember 2006

Kabut mulai turun lagi ke lembah ini

Aroma basah tanah, dan hijau lumut terbawa angin

Eddelweissku belum lagi mekar

Tapi kecupan hangat sang embun pun menenangkanku

 

 

Hanya aku

Sejenak memahami keheningan

Seakan mendengar alamMu berdzikir

 

Haru tawa, tangis bahagiamu hadir disini, terbang dihantar malaikat pagi

Terbaring disampingku, berceloteh segalanya

Bagaimana aku tak jatuh

Kuncup pun mekar saat kau sentuh

Memupus asa, menjemput harapan

Kepadamu bidadari kurindukan

 

Tanahku telah mengering

Telah kutinggalkan jejakku

Garis cakrawala menyiratkan harapan

Kuayunkan langkahku dan berbisik

Aku masih hidup…

 

 

(Selamat menempuh hidup baru ukh…. Hummm…..Puncak gunung memang menenangkan pikiran Alhamdulillah…)


Posted at 12:45 am by pitunemlimo
Make a comment  

Wednesday, May 09, 2007
Telaga Cinta di Kota kendal

           Kalo Herudi Kandau punya "dermaga cinta di kota Jogja", kami anak-anak BPK punya telaganya. Telaga dimana cinta itu terapung berada di Kota Kendal. Diantara hamparan hijau persawahan, manisnya tebu, dan aliran udara hangat pedesaan.

Sabtu, 21 April 2007 ketika matahari masih bersinar dengan hangatnya, kami menjadi saksi peristiwa sakral untuk dua insan yang akan membuat ikrar untuk sehidup semati berdua. Sebuah momen yang mengharukan. Ini adalah kali pertama bagi saya menyaksikan peristiwa ini, semenjak saya mengenal cinta dan bagaimana seharusnya memaknainya.

Rintik hujan menyambut kedatangan rombongan kami ketika memasuki kota Kendal. Waktu menunjukkan pukul 05.30 ketika kami memutuskan untuk berhenti disebuah SPBU untuk sholat dan mandi. Setelah selesai kami meneruskan perjalanan kembali. Hujan telah reda, kami berharap semoga tidak terlambat. Dengan berbekal selembar peta dibalik undangan dan bimbingan salah seorang teman akhirnya kami sampai di lokasi, syukurlah acara belum dimulai.

Matahari sudah tidak lagi hangat, para tamu sudah mulai gelisah bahkan ada yang nyeletuk "maklum Indonesia". Rombongan keluarga mempelai laki-laki tiba, membawa hantaran dan mahar. Saya yang mempunyai usul agar teman-teman patungan untuk menghadiahkan satu set tafsir Ibnu Katsir hanya tertawa saat melihat ternyata yang dijadikan mahar juga tafsir tersebut (terimakasih buat Juki yang udah ngingetin untuk memprioritaskan yang lebih penting dulu). Setelah prosesi perkenlan dan ramah tamah kedua keluarga yang mebuat Irwan Sasmika tertidur dikarenakan ga paham apa yang dibicarakan (jangankan Irwan saya sendiri yang orang Jawa aja ga ngerti artinya kok) penghulu yang ditungu-tungu akhirnya tiba. Penghulunya berperawakan agak gemuk, pendek, berwajah bersih, dengan kumis tanpa jenggot, mengenakan sarung dan jas warna kelabu dengan aksesoris semacam selendang yang diselampirkan di pundaknya. Dia disambut dengan cium tangan para hadirin bahkan yang lebih tua darinya (subhanallah bahkan Rasulullah saw saat tiba di majelisnya, para sahabat tidak pernah berdiri dengan alasan menyambut kedatangan Beliau). Sang penghulu duduk dan langsung membuka bungkusan rokok "gudang garam"-nya yang tampaknya baru dibelinya, kontan tuan rumah sibuk mencarikan asbak untuknya (Ustadz..apakah belum sampai kepadamu peringatan bahayanya merokok, dan dalil-dalil yang bisa dipakai untuk mengharamkannya?Semoga engkau menemukan hidayahNya)

Nala sendiri memakai baju koko warna putih, setelan Jas warna kelabu, sebuah peci nasional hitam, untaian kalung bunga melati dan riasan yang sepertinya harus dipaksakan pada Nala untuk memakainya. Setelah khutbah Nikah yang singkat, proses akad nikah pun dilaksanakan. Ijab qabul dilakukan dengan menggunakan bahasa arab dan harus diulang karena ada sedikit kekurangan pengucapan dan alhamdulillah yang kedua kalinya telah disahkan. Saya tidak lupa mengabadikan momen ini dengan fasilitas kamera HP yang ala kadarnya. Setelah do'a Nala (mempelai pria) membacakan janji yang tertera di surat nikah dan menandatanganinya. Kemudian Nisak (mempelai wanita) yang sedari tadi mungkin hanya memanjatkan do'a ketika proses ini lancar dan entah apa yang ada didalam benaknya saat ijab qabul dilaksanakan keluar dan menyambut tangan suaminya. Dibawah kilatan lampu blits kamera mereka berdua memamerkan surat nikahnya. Tampak rona bahagia terpancar dari wajah keduanya, menerima anugerah dari yang Kuasa. Sebuah bingkisan hakikat cinta dari Sang Maha Pecinta terbingkai indah dalam ikatan pernikahan.

Acara dilanjtkan dengan sesi berfoto bersama kerabat, teman laki-laki dengan mempelai laki-laki, teman perempuan dengan mempelai wanita. Di sela-sela acara tersebut seorang kerabat "ujug-ujug" (tiba-tiba=jawa) datang datang dan bertanya "Rombongan anak STAN yang dari Jakarta ya?" kemudian membuka kertas bertuliskan "Rak Enak Kawin...?" (Bukankah Nikah Itu Enak?=jawa) kami yang paham kontan tertawa.."Ono-ono wae Lik...!!"

Setelah menyantap jamuan makan siang (dan sudah diprediksikan siapa-siapa saja yang bakal nambah) yang sebelumnya diselingi guyonan tuan rumah yang kasihan melihat si Asil sampe keriting nungguin makan....Kami berpamitan untuk kembali menuju Jakarta, teriring do'a agar pernikahan mereka barakah, rumah tangganya menjadi Sakinah, Mawaddah, Warrahmah. Kenangan Kota Kendal menyisakan tanya bagi diri saya pribadi, kapankah drama kehidupan ini akan saya lakoni? Wallahu 'alam.

 

(Pusdiklat BPK-RI kamar 212, senin 23 April 2007 19:35) 


Posted at 05:16 pm by pitunemlimo
Make a comment  

Jilbab, Syariat yang Terdzalimi

Bismillah,

Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta Alam, shalawat serta salam semoga senantias tercurah kepada junjungan kita Nabi saw serta sahabat hingga akhir jaman.

 

Saudari seiman, mungkin saudari pernah mendengar ayat ini:

 

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab:59)

 

”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.....” (An-nur:31)

 

Ayat-ayat diatas menjadi salah satu dasar syariat yang mewajibkan bagi muslimah agar mengenakan jilbab. Kedua ayat diatas memerintahkan bagi wanita yang beriman maka sudah selayaknya bagi muslimah yang mengakui adanya iman dihatinya untuk menegakkan syariat ini.  Sungguh perintah ini adalah suatu perintah yang sangat mulia karena dibalik itu semua terkandung hikmah dan manfaat yang begitu besar.

 

Seperti kita ketahui negara kita adalah negara yang mayoritas masyarakatnya beragama islam, namun kebanyakan wanitanya belum memahami betul arti pentingnya jilbab ini bagi mereka. Namun akhir-akhir ini beberapa orang dari kita mungkin sudah merasa puas dengan kemajuan dari wanita-wanita (muslimah) kita yang sudah mulai memakai jilbab (kalo kain yang ditutupkan di kepala mereka itu yang mereka sebut jilbab). Hal ini sering kita lihat terutama ketika artis ini artis itu (dimana artis terkenal sebagai golongan yang sering mengumbar aurat) dipuji-puji karena telah memakai jilbab  Tapi  apakah kita pernah bertanya sudah benarkah cara mereka berjilbab? Fenomena jilbab di negara ini menurut saya pribadi sungguh menjadi realita yang menyedihkan. Di saat para muslimah di barat sana berjuang dalam tindasan untuk menegakkan syariat yang mulia ini, kaum muslimah di negeri kita cenderung lalai dan menyepelekannya. Sebagai negara dimana kita masih diberi kebebasan untuk melaksanakan syariat, kita malah cenderung merasa terbebani untuk melaksanakannya. Sepertinya fenomena jilbab ini hanyalah sebagai trend semata, atau bila memang mereka telah sadar bahwa ini suatu kewajiban maka jilbab ini hanya sebagai hal yang menggugurkan kewajiban tersebut tanpa mengetahui syarat-syaratnya. Maka tengoklah ketika wanita-wanita yang berjilbab itu berpakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh, dan tipis yang disebut dengan fenomena ”jilbab mini”. Tak jarang mereka pun bersolek secara berlebihan (tabarruj), memakai parfum dsb seperti orang-orang kafir. “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti gaya hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis biawak) niscaya ada di antara kalian yang ikut masuk pula ke dalamnya.” (HR Muslim).

 

Pada suatu hari saya pernah mengunjungi bazaar buku islam di mana di sana diputar video tentang peragaan busana (fashion show) busana muslimah, (subhanallah) ada apa ini? Mereka seoloah-olah menganggap bahwa jilbab hanyalah sekedar busana tren dan bagian dari gaya hidup semata. Ini tentu saja termasuk tasyabbuh (meniru-niru) budaya barat. Setahu saya jilbab ini bukan untuk perhiasan agar dilihat orang lain dan tampak menarik. Bagi saya sendiri ini merupakan perbuatan yang mencoreng muka islam dan meninggalkan luka yang pedih bagi orang-orang yang peduli dengan tegaknya syariat. Bagaimana mungkin jilbab sebagai syariat yang diwajibkan oleh Allah atas kaum muslimah didzalimi demikian rupa sehingga nilai kesucian darinya seakan terinjak-injak dan ternodai.

Apa itu jilbab sebenarnya?

Jilbab adalah penutup badan, dan sebagai ciri dari sekumpulan peraturan sosial yang berhubungan dengan keadaan wanita dalam undang-undang Islam, yang telah ditetapkan oleh Allah swt untuk menjadi benteng yang kuat, menjaga kehormatan, kemuliaan, dan dalam ruang lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat, yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini.

 

Manfaat jilbab

Hijab ataupun Jilbab memilki beberapa manfaat:

  1. ’Iffah yaitu menahan diri dari perbuatan maksiat. Seorang muslimah yang telah berjilbab akan menjadikan dirinya tentunya akan menghindari perbuatan maksiat. Dengan jilbab diri mereka pun terlindungi dari kemaksiatan. Namun apa yang terjadi sekarang ini dimana muslimah berjilbab sering terlihat berduaan dengan lki-laki bukan mahramnya.
  2. Sebagai pemelihara kesucian. InsyaAllah dengan berjilbab muslimah akan terhindar dari fitnah.
  3. Sebagai bentuk rasa malu.
  4. Jilbab sebagai bentuk rasa cemburu. Jilbab selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah laki-laki dikarenakan pandangan khianat terhadap istri atau anak perempuan mereka.

 

 

Cara berjilbab yang benar sesuai syariat:

  1. Hendaklah jilbab menutup seluruh aurat yaitu seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah
  2. Hendaknya jilbab tersebut tebal tidak tipis dan transparan sehingg terbebas dari hakekat hadist Nabi saw ”berpakaian tapi telanjang”
  3. Hendaknya tidak berupa perhiasan atau pakaian yang menyolok, yang menarik perhatian karena Allah telah berfirman ”Dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak darinya” (An-Nur:31)
  4. Hendaknya jilbab tidak sempit, ketat. Tidak membentuk lekuk tubuh dan aurat, maka jilbab harus luas dan lebar, sehingga tidak menimbulkan fitnah.
  5. Hendaknya tidak memakai parfum, yang dapat menimbulkan fitnah. Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya wanita bila memakai minyak wangi kemudian lewat pada suatu majelis agar mereka mencium baunya, maka ia telah berzina”.
  6. Hendaknya jilbab tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki. Karena Nabi saw telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.

 

Jadi saudariku seiman apa yang membuatmu ragu untuk berjilbab sesuai syariat ini? Sungguh kebanyakan dari kita yang belum paham malah merasa aneh bila melihat muslimah-muslimah yang berjilbab lebar dan berwarna gelap bahkan mencap mereka sebagai teroris. Seharusnya tidak perlu ada keraguan dihati kita sebab Alllah swt telah berfirman: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”(Al-Ahzab:36)

 

Semoga kita senantiasa diberi ketetapan hati dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala laranganNya berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.

 

Sumber-sumber:

  • Hijab (artikel dari internet diterbitkan oleh Darull Qosim-saudi arabia)
  • Kepada Ukhti Muslimah (oleh Islamic Propagation in rabwah-Riyadh)

Posted at 05:07 pm by pitunemlimo
Make a comment  

Thursday, March 29, 2007
Aisyah Mengoreksi Para sahabat

Judul Buku: Aisyah Mengoreksi Para sahabat
Penulis: Imam Badruddin Az-Zarkasyi
Penerbit: Pustaka Azzam
Tebal: 236 halaman

Adalah Sa'id Al Afghani yang telah bertahun-tahun menekuni studi tentang Sayyidah 'Aisyah yang secara tidak sengaja menemukan arsip manuskrip ini di perpustakaan Azh-Zhaahiriyyah (Damaskus) yaitu sebuah risalah apik karya Imam badruddin Az-Zarkasyi Asy-Syafi'i. Kemudian beliau berniat menyampaikan risalah ini ke khalayak ramai. Didalam buku ini dijelaskan betapa dalamnya perbendaharaan ilmu Sayyidah 'Aisyah. Pengetahuan beliau dalam berbagai disiplin ilmu anatar lain ilmu fikih, hadist, tafsir, syariat, sastra, medis historidsb yang beberapa diantaranya sudah beliau kuasai sebelum beliau berusia 18 tahun. Buku ini terbagi menjadi bagian-bagian layaknya sebuah karya tulis (dan memang ini sebenarnya adalah suatu karya tulis ilmiah) mukadimah yang berisi Abstraksi Kitab, Seputar pengarang, dan Identitas Manuskrip Asli. Kemudian Bab 1 yang berisi Biografi dan Keutamaan 'Aisyah. Bab 2 berisi Koreksi 'Aisyah terhadap sahabat senior.Bab 3 berisi Koreksi 'Aisyah dalam permasalahan global. Penutup yang berisi appendiks dan lampiran kopian naskah dari putra penulis. Sangat sulit bagi gw untuk memberikan gambaran yang pas mengenai buku ini dikarenakan kedangkalan ilmu yang gw miliki. Pokoknya di buku ini disebutkan betapa posisi Sayyidah 'Aisyah diantara Para Sahabat seperti posisi seorang guru terhadap murid. Misalnya Umar ra yang selalu bertanya mengenai masalah kewanitaan dan juga kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW dimana tidak seorang pun yang menandingi 'Aisyah untuk urusan seperti itu. Apabila ada beberpa riwayat yang salah atau kurang tepat didengar oleh telinga Sayyidah 'Aisyah, beliau tidak segan-segan untuk langsung mengoreksinya. Beliau adalah sosok yang haus ilmu danpaling dekat dengan sumber ilmu pengetahuan karena hidup serumah dengan Rasulullah SAW sebagai sentral penerima wahyu. Seperti halnya orang yang memutuskan untuk menyebarkan risalah ini menemukannya di perpustakaan harta yang terpendam gw menemukan buku ini juga secara tidak sengaja di bookfair di tumpukan buku-buku obralan murah (5000-an rupiah) buku ini sangat berharga bagi gw tapi sayang karena kedangkalan ilmu gw banyak yang gw ga ngerti dari buku ini.


Posted at 04:22 pm by pitunemlimo
Make a comment  

Pelangi Indah Di Atap rumahku

 

Pelangi Indah Di Atap rumahku
Penerbit : Nikah Media Samara
Tebal : 234 Halaman
Harga: Rp 25.000,-

Seperti Buku yang telah diterbitkan oleh penerbit yang sama, buku ini berisi artikel-artikel pilihan dari rubrik "fikih keluarga" yang dimuat di Majalah Nikah. Didalamnya terdapat 26 artikel yang kebanyakan ditulis oleh salah satu staf majalah Nikah yaitu Al Ustadz Abu Umar Basyier yang dikemas sedemikian sehingga para pembaca sedikit lebih tahu tentang fikih praktis dalam seluk beluk membina Rumah Tangga walaupun temanya tidak melulu seputar pernikahan akan tetapi juga memuat tentang perjodohan hingga muamalah dengan lingkungan sekitar. Buku ini diharapkan bisa menjadi penyejuk rumah tangga yang turut andil mewujudkan rumah tangga bahagia sesuai koridor syariat ataupun teman berdakwah di lingkungan sekitar. Walaupun sifat buku ini hanya sebagai panduan fikih praktis karena memang masalah fikih rumah tangga ini memerlukan pembahasan yang mendalam dan menyeluruh akan tetapi buku ini bisa tetap kita pakai sebagai rujukan dalam menghadapi kehidupan berumah tangga yang tentu mengalami dinamika mengikuti perkembangan berbagai sendi kehidupan sekitar kita. Sebagai seorang muslim tentu kita harus membekali diri kita dengan ilmu untuk semua aspek kehidupan karena kita tahu bahwa kehidupan kita tidak boleh lepas dari Al Qur'an dan As Sunnah. Berbagai bahasan dalam buku ini dibuat sederhana, praktis dan langsung ke sasaran agar memudahkan penuntut ilmu tingkat dasar dapat memahami.


Posted at 04:13 pm by pitunemlimo
Make a comment  

Wednesday, March 21, 2007
semudah cinta diawal senja

 

semudah cinta diawal senja
penerbit Nikah Media Samara
Tebal: 176 halaman
Harga: Rp 20.000,-


Buku ini adalah buku perdana dari seri yang oleh penerbitnya diberi judul seri "Mutiara Kehidupan".
Buku ini berisi 15 kisah nyata pilihan dari rubrik "kisah nyata" yang ada di majalah nikah. Kisah Nyata yang menyebabkan buku ini berbeda dari kebanyakan buku-buku dengan tema yang sama yang banyak dipasaran, yang hanya dibuat berdasarkan angan-angan penulisnya sehingga membuat pembacanya tertarik. Walaupun penuturan cerita di buku ini seenak novel atau cerpen serupa.
Dan bukankah didalam Al Qur'an juga banyak disebutkan kisah-kisah nyata Para Anbiya' dan seperti ulama-ulama terdahulu yang gemar menyisipkan kisah-kisah nyata pada buku-buku mereka terutama yang berkaitan dengan penyucian jiwa.
Mengapa diberi nama seri "Mutiara Kehidupan"? Menurut penerbitnya hal ini merupakan arti dar sebuah perjalanan manusia yang tidak terlepas dari ujian dan cobaan, dimana ada yang berakhir bahagia dan juga ada yang berakhir meninggalkan lara, Namun yang lebih penting bagaimana seorang manusia memaknai ujian yang diterimanya kemudian menjadikannya kembali bertakwa kepada Allah swt.
Kumpulan kisah nyata dalam buku ini berisi tentang masalah jodoh (sangat cocok untuk yang belum menikah agar menjadi inspirasi dan penambah semangat untuk menyempurnakan diennya), pernikahan,perceraian (untuk yang sudah berkeluarga agar lebih bisa memaknai kehidupan rumah tangganya dan mengambil pelajaran berharga dalam menghadapi kehidupan berkeluarga yang syar'i), dan perjalanan seseorang menjemput hidayah dan menerima cahaya islam (yang akan membuat kita sebagai muslim sangat bersyukur dengan nikmat terbesar dari Allah Azza wa Jalla yaitu nikmat Iman dan Islam dan semoga membuat kita lebih bertakwa)
Sungguh buku ini sudah saya tunggu kemunculannya sejak pertama kali diiklankan dimajalahnya (yang kebetulan juga sering gw beli) karena Bagiku Rubrik "kisah nyata" di majalah ini sangat menarik. Saat pertama kali aku mencarinya di Gramedia tidak berhasil walaupun sudah ditanyakan dan dicek dikomputer bahwa buku tersebut masih ada stocknya, tapi setelah dicari-cari oleh beberapa pramuniaga tetap tidak ketemu juga padahal gw udah dapat buku yang satunya lagi"Pelangi Indah Di Atap Rumahku". Trus semalam aku iseng-iseng lagi Ke Gramedia BP yang kebetulah udah pindah ke Lantai 3, dan mencoba menanyakannya lagi qadarrullah masih susah juga mencarinya sampai dibantuin satpam segala. Dan Alhamdulillah ketemu juga setelah beberapa lama mencari, terselip diantara buku-buku islam yang tebel-tebel.
Dan malam itu juga gw baca sampai habis, langsung bikin resesensi ini. Bagi teman-teman yang tertarik silahkan beli ato yang kebetulan kenal gw boleh pinjem ke gw.


Posted at 08:50 am by pitunemlimo
Comment (1)  

Don't buy Vista Security
Next Page
<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31






Link


Salafi Start Page
Ikhwah STAN
STAN-BPK
Blog-nya Abu Salma
Muslim.or.id
Muslimah.or.id
Al Manhaj

Ikhwan

Iyok
Zabun
Sri Kasembadan
Maramis Setiawan

Akhwat

Eni Mataram
Mba Leila
Tigger of Palembang



Dengar Kajian (Thanks to Saudara Abu Yahya Albykazi)
Ajaran Islam Mana ...

Yang Sedang Berkunjung
online

Yang Sudah Berkunjung
hits




Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



RSS Atom
rss feed

BLOGDRIVE
TEMPLATES

Blogdrive's Infected Improved