|
Sekitar pukul setengah Sembilan
malam, hari minggu. Seperti biasa selepas kajian rutin yang aku ikuti aku
mampir untuk membeli makan. Kali ini aku memilih untuk membeli nasi goreng di
warung langgananku, sambil menunggu pesananku aku membaca-baca majalah nikah
yang baru aku beli. Lewat segerombolan anak yang aku kenali mereka sebagai
teman satu angkatanku di organisasi kepecintaalaman kampus. Aku pun menyapa
mereka, mereka pun menoleh untuk mencari tahu siapa yang memanggil dan saat menyadari bahwa yang menyapa mereka adalah
aku sontak mereka kaget seolah tidak percaya bahwa seorang yang berpenampilan
seperti ustad jefry (sebenernya si
lebih layak disebut artis kali yee) adalah “kaspo” anak berandalan yang
jarang mandi itu. Mereka menghampiriku dengan tertawa dan mulai sedikit
menyindir penampilanku yang memang agak aneh (aneh disini adalah ya seperti
umumnya anak-anak pengajian lah… coz penampilan normalku setahu mereka adalah
yang urakan dan terkesan tak terurus he..he..). “mimpi apa loe semalem…dapet
hidayah darimana loe..”dan pertanyaan sejenis yang mulai terlontar dari
mereka.. (”….dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan”) Yah memang kenyataan seperti inilah yang harus aku hadapi ketika aku memilih untuk menjalani hidup dengan bekal yang menurutku tepat untuk saat ini yang mengharuskan aku untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamaku dulu. Konsekuensi yang harus saya terima dengan apa yang aku dapatkan sekarang ini mudah-mudahan aku semakin bangga dengan apa yang telah menjadi keputusanku. Dalam hati ini masih ingin mengatakan bahwa aku masih teman kalian untuk menapaki jalan setapak menggapai puncak-puncak gunung Aku masih teman kalian untuk menjamahi tebing-tebing terjal, menyusuri dalam dan gelapnya goa untuk mendapatkan keindahan stalaktit dan stalakmit, atau mengarungi ganasnya arus dan liarnya jeram-jeram Aku masih teman kalian dalam mngekspresikan jatidiri dengan cara kita
masing-masing. Tapi aku bukan lagi teman kalian untuk menikmati batang demi
batang rokok, tidak lagi teman untuk nongkrong menghaiskan waktu tak berguna
dengan menyanyi atau bahkan sampai meminum khamr. Sekali-kali tidak aku bukan
lagi teman untuk melanggar ketentuan syariat. Tidak ada teman untuk melawan
Allah dan Rasulnya… Biarkan aku teman…biarkan aku duduk di majelis itu, biarkan aku meninggikan
pakaianku, biarkan aku memelihara jenggotku (walau Cuma beberapa lembar si..),
biarkan aku memenuhi sunnah RasulNya Seandainya kalian mengalami apa yang aku rasakan sekarang ini teman. Aku ingin sekali mengajak kalian bersamaku duduk di majelis ilmu yang dinaungi malaikat. Bukan untuk merubah kalian menjadi seperti aku, tapi hanya sekedar memahami mengapa aku telah memilih. Tapi apa daya hidayah hanya milik Allah semata, aku hanya bisa berdo’a. terimalah aku walau penampilanku kini sudah tidak sama lagi dengan kalian. “…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…..”(2:216) |
| Leave a Comment: |